revolutiontr.com – Tahun 2025, kalau kamu masih menganggap vegan cuma “makan rumput” atau “hidup susah”, berarti kamu belum pernah coba burger Impossible yang berdarah-darah, es krim oat yang lebih creamy daripada susu sapi, atau rendang jamur yang bikin orang Betawi lupa daging.
Plant-based dan vegan sudah bukan gerakan pinggiran lagi. Ini adalah revolusi makanan terbesar abad ini.
Bedanya Plant-Based vs Vegan (Banyak Orang Masih Bingung)
| Vegan | Plant-Based |
|---|---|
| Filosofi etika: tidak boleh eksploitasi hewan sama sekali (makanan, pakaian, kosmetik, hiburan) | Fokus utama makanan 100 % atau hampir 100 % dari tumbuhan |
| Tidak makan madu, tidak pakai wool, tidak ke sirkus gajah | Boleh makan madu, boleh pakai leather second-hand, fokusnya hanya piring |
| Biasanya permanen | Bisa fleksibel (misal: Senin–Jumat plant-based, weekend bebas) |
Keduanya sama-sama tidak makan daging, ikan, telur, susu, keju, gelatin, dll. Tapi motivasi bisa beda: etika hewan, kesehatan, lingkungan, atau cuma ikut-ikutan selebgram.
Kenapa Sekarang Semua Orang (Tiba-tiba) Jadi Plant-Based?
- Planet lagi darurat
- Produksi daging sapi bertanggung jawab atas 14,5 % emisi gas rumah kaca global (FAO).
- 1 kg daging sapi butuh ±15.000 liter air. 1 kg tempe cuma 2.000 liter.
- 77 % lahan pertanian dunia dipakai untuk peternakan (pakan + padang rumput), tapi hanya menghasilkan 18 % kalori manusia.
- Kesehatan terbukti ilmiah
- Studi 2024 di The Lancet: diet plant-based menurunkan risiko diabetes tipe-2 sampai 62 %, kanker kolorektal 20 %, penyakit jantung 30 %.
- Blue Zones (daerah orang hidup >100 tahun): 95 % makanan mereka dari tumbuhan.
- Rasanya sudah tidak kalah lagi
- Daging nabati generasi ke-3 (Impossible, Beyond, Green Rebel, Hungry) sudah pakai heme (protein “darah” dari akar kacang kedelai fermentasi) → rasa & tekstur 95 % mirip daging asli.
- Keju vegan dari kacang mede + miso + nutritional yeast sekarang meleleh dan berstretch seperti mozzarella.
Makanan Plant-Based yang Sudah Jadi “Normal” di Indonesia 2025
- Burgreens, Greenly, Vegan House (Jakarta & Bali)
- Heavenly Wangi, Loving Hut (Bandung)
- Dharma Kitchen, Kindred (Yogyakarta)
- Warung Makan Sehat di Ubud → sudah lebih banyak vegan daripada non-vegan
- Gojek/Grab sekarang ada filter “Vegan Friendly”
- Starbucks, Fore Coffee, Janji Jiwa → susu oat & almond gratis upsize
- McD Indonesia sudah uji coba McPlant burger di 12 gerai
Makanan Tradisional Indonesia yang (Tanpa Sadar) Vegan
- Gado-gado, pecel, karedok
- Sayur asem, sayur lodeh
- Rujak buah, asinan
- Nasi uduk + tempe orek + sambal kacang
- Bubur ketan hitam, kolak pisang → Indonesia sebenarnya sudah vegan-friendly dari dulu!
Mitos yang Sudah Mati Tahun 2025
| Mitos | Fakta 2025 |
|---|---|
| Vegan kekurangan protein | Tempe 100 g = 20 g protein, seblak jamur + edamame bisa 50 g protein |
| Vegan mahal | Beras + tempe + tahu + sayur kolplay = < Rp 15.000/hari |
| Anak vegan jadi kerdil | Anak-anak vegan di Blue Zones Okinawa & Loma Linda justru lebih tinggi & lebih sehat |
| B12 cuma dari daging | Suplemen B12 vegan sekarang Rp 80.000 untuk 6 bulan |
Cara Mulai Plant-Based Tanpa Drama
- Mulai VB6 (Vegan Before 6 pm) → sarapan & makan siang plant-based, malam bebas.
- Ganti susu sapi → oat milk lokal (Oat Yeah, Soyjoy) harganya sudah < Rp 25.000/liter.
- Tempe & tahu tetap jadi andalan, tambah jamur tiram king oyster (tekstur mirip ayam).
- Pakai aplikasi HappyCow atau PergiKuliner filter “vegan” kalau bingung cari makan di luar.
- Jangan langsung 100 % vegan kalau belum siap — 80/20 sudah mengurangi jejak karbon drastis.
Makan plant-based di tahun 2025 bukan lagi soal “mengorbankan rasa”, melainkan soal memilih makanan yang lebih enak, lebih murah, lebih sehat, dan tidak menyakiti hewan maupun planet.

